Tags

,

lastlove

Annyeong^^
Aku balik lagi dengan ff oneshoot yang garing nan gaje ..
Mian kalo ini ga bisa di sebut ff .. cz sumbernya dari kamut ..
Aku cm nambahin2 aja ..
hopely kalian bisa ngasi kritik or saran buat ak ..
habis ini aku mau belajar bikin yang chaptered ..
oke biar ga banyak omong ,, HAPPY READING😀

LAST LOVE

Author: DianAra Taemints
Cast : Yoon Haerin (OC), All SHINee member
Genre: Romance, Angst, Sad
Leght: Oneshoot
Rating: PG-15

Cerita cintaku seperti penggalan kata-kata cinta yang dari paling romantis hingga menyakitkan. Ku resapi setiap makna yang ada di dalamnya. Mungkin kalian pernah juga mengalami cinta yang aku rasakan. Tapi sungguh aku hanya ingin menceritakan pengalaman pahitku tentang cinta. Hingga kapan akhirnya aku akan bertemu dengan seseorang yang akan menjadi pelabuhanku untuk terakhir kalinya.

-Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut kemulut tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya.-

Jika saja kehadiran cinta sekedar untuk mengecewakan, lebih baik cinta itu tak pernah hadir.-

Aku, Yoon Haerin. Berharap untuk merasakan cinta dari seorang namja yang tulus. Bukan hanya karena uang atau penampilan semata. Banyak namja yang mengejarku hanya karna harta orang tuaku yang melimpah. Setelah mereka bosan mereka akan meninggalkan ku seperti tikus yang harus dimusnahkan karena sudah tidak berguna. Bodohnya aku bisa percaya akan janji-janji manis namja. Apakah aku terlalu polos?

-Cinta sebenarnya tidak buta. Cinta adalah sesuatu yang murni, luhur dan diperlukan. Yang buta adalah bila cinta itu menguasai dirimu tanpa suatu pertimbangan.-

Aku trauma untuk merasakan cinta. Ini karena ulahnya, Kim Jonghyun. Namja yang berhasil memoroti ku. Dengan mudahnya aku percaya bahwa dia harus membiayai adiknya yang tengah sakit. Hingga akhirnya ku tahu ternyata uang yang aku berikan ia gunakan untuk bersenang-senang dengan gadis lain yang bisa diajaknya berkencan. Sungguh aku telah dibutakan cintanya. Cintanya yang menipu.

-Cinta bukanlah dari kata-kata tetapi dari segumpal keinginan diberi pada hati yang memerlukan. Tangisan juga bukanlah pengobat cinta karena ia tidak mengerti perjalanan hati nurani.-

Sudah habis air mataku utuk menangisi betapa lemahnya aku karena cinta. Betapa tidak berdayanya aku yang haus akan kasih sayang seorang namja. Aku sadar aku banyak salah terhadap orang tua ku. Karena aku telah menggunakan hasil jerih payah mereka untuk hal yang tidak berguna. Aku menyesal. Andai waktu bisa terulang. Aku ingin memulai sesuatu dari awal.

-Cinta pertama adalah kenangan, Cinta kedua adalah pelajaran, dan cinta yang seterusnya adalah satu keperluan karena hidup tanpa cinta bagaikan masakan tanpa garam. Karena itu jagalah cinta yang dianugerahkan itu sebaik-baiknya agar ia terus mekar dan wangi sepanjang musim.-

Cinta pertamaku, Lee Jinki. Dia adalah namja sempurna bagiku. Baik, ramah dan lucu. Dengan wajah imutnya itu mampu menghipnotisku untuk semakin menyukainya. Kami berpacaran saat masih di senior high school. Hingga akhirnya pada saat kelulusan ia meninggalkan ku ke luar negeri untuk mengejar cita-citanya. Jujur saat itu aku sakit karena ia meninggalkan ku tanpa kata perpisahaan. Tapi di balik itu aku bisa belajar bahwa mencintainya adalah anugerah bagiku.

-Kecewa bercinta bukan berarti dunia sudah berakhir. Masa depan yang cerah berdasarkan pada masa lalu yang telah dilupakan. Kamu tidak dapat melangkah dengan baik dalam kehidupan kamu sampai kamu melupakan kegagalan kamu dan rasa kekecewaan itu.-

Aku pernah merasakan kekecewaan. Dulu aku menyukai namja bernama Choi Minho. Ia namja tampang yang jago dalam segala bidang olahraga. Selalu berusaha menjadi orang nomor satu di setiap apapun yang ia lakukan. Berusaha agar menjadi pemenang. Walaupun kekalahan bukanlah masalah baginya. Sosok itulah yang aku idolakan hingga akhirnya kami bisa berdekatan. Saling mengenal satu sama lain. Saling melengkapi dan mengisi kekurangan. Tapi itu hanya sementara. Ternyata Minho tak beda dengan namja lainya. Ia mendekatiku karena ingin bisa memperhatikan sahabatku. Aku akui sahabatku, Kim Minji. Lebih segalanya dibandingkan aku. Ia seorang model dan selalu menjadi yang terbaik di kelas. Aku di tusuk dari belakang oleh sahabat dan namja aku sukai. Sungguh sakit hatiku semakin belipat-lipat mengingat kejadian itu.

-Dalam sebuah percintaan, janganlah kamu sesali perpisahan tetapi sesalilah pertemuan. Karena tanpa pertemua tidak akan ada perpisahan.-

Kenapa harus ada cinta jika akhirnya harus ada yang terluka? Pikiranku terus melayangkan pertanyaan seperti itu di otak ku. Sulit untuk membiarkan cinta datang lagi jika hanya rasa sakit yang akan aku rasakan. Mencintai seseorang memang mudah. Tapi kita akan kecewa jika orang itu tidak mencintai kita. Memiliki perasaan terhadap seseorang itu wajar tapi akan sangat menyakitkan jika di tinggalkan. Perlahan kurasakan air mata kembali jatuh dari pelupuk mata ku. Walaupun sudah kering tetap saja sakitnya masih terasa. 3 kali merasakan cinta yang aku dapat hanya luka dan rasa sakit tak terperi. Ingin rasanya aku mengakhiri hidupku. Tapi ku coba untuk tetap tegar. Berharap akan ada kejutan dari Tuhan di akhir cerita ku ini.

-Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan, walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.-

Sulit rasanya aku untuk percaya akan namja yang susah payah memberikan cintanya pada ku. Setelah yang aku alami akhir-akhir ini. Berat rasanya untuk merasakan cinta lagi. Memang hatiku belum mati untuk merasakan cinta. Hanya saja aku tidak sanggup untuk tersakiti lagi. Belum kering luka yang namja-namja itu torehkan di sistem urat saraf ku. Luka itu masih menganga di nadi ku. Entah sampai kapan akan seperti itu. Hanya cinta tulus yang aku harapkan untuk bisa menutup luka di jiwaku ini.

Hingga akhirnya aku bertemu dengan seseorang yang ku anggap sebagai pelabuhan terakhirku. Tempat ku bersandar dari segala sakit yang kualami selama ini. Kim Kibum.

-Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.-

Namja itu, Kim Kibum. Menurutku namja itu yang terbaik bagi ku. Walaupun dia pilihan keluarga ku tapi aku bisa merasakan kasih sayang dari dirinya. Bisa kukatakan namja itu adalah namja ter-perfect menurutku. Ia pintar dalam mengatur bisnis keluarganya, pandai dalam hal memasak dan bersih-bersih. Cerewet sperti seorang eomma. Bahkan ia bisa benbuat kita tertawa dengan kehebohannya selama ini. Sungguh namja tipe ku. Akupun mulai menyukainya, kubiarkan ia mengobati luka yang selama ini tertoreh di diriku.

Sudah beberapa bulan ini kami menjalin kasih. Aku sangat mempercayainya hingga ia terlihat sangat sempurna di mata ku. Ku rasa ia juga merasakan hal yang sama. Aku tetap menjadi diri ku sendiri tanpa ada yang mengekang. Bersikap apa adanya. Selalu memujanya, berharap ia akan selalu di samping ku hingga kami kepelaminan.

-Cinta sebenarnya adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan didalam dirinya.-

Akhir dari cerita cinta ku, yeah mungkin. Tapi kurasa tidak mungkin ini menjadi akhir. Akhir-akhir ini ia sering pergi ke luar negeri mengurus bisnis nya disana. Ia mulai berubah… Dulu yang perhatian sekarang mulai cuek dan tidak meperhatikan aku sebagai kekasihnya. Ia semakin di sibukkan dengan urusan perusahaannya. Hingga berbulan-bulan ia tak mengabariku. Aku sudah lelah menunggunya. Berharap ia akan datang kembali dan memelukku untuk menenangkan kegalauan ku tentang dirinya. Kibum-ah, bogoshipo.

-Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterimakasih atas karunia tersebut.-

Aku lelah menunggu Kibum datang kembali kepelukan ku. Sudah 1 tahun lebih aku menunggunya tanpa kepastian yang jelas. Hingga akhirnya aku menyudahi penantian tak berujung ku ini. Mungkin sekarang aku akan kembali menjadi Haerim yang perumrung dan tak mau menerima kenyataan.

Tak berapa lama ku dengar kabar dari appa ku bahwa Kibum sudah menikah. Ia telah menghamili seorang yeoja yang ia sering ajak keluar negeri untuk urusan bisnis. Terang saja itu membuatku semakin syok dan tak ingin merasakan cinta lagi. Cukup. Aku lelah. Batinku berteriak memberontak.

-Cintailah seseorang itu atas dasar siapa dia sekarang dan bukan siapa dia sebelumnya. Kisah silam tidak perlu diungkit lagi, kiranya kamu benar-benar mencintainya setulus hati.-

Apakah aku akan menjadi perawan tua eomma? Apakah aku tidak bisa memberikan kebahagiaan pada orangtuaku yang sudah semakin tua ini? Apa yang harus aku lakukan?

Aku hanya bisa berjalan tak tentu arah kesana kemari. Sampai aku berhenti di sebuah pasar malam. Gemerlap lampu nya mengundangku untuk memasuki tempat itu. Aku bermain sepuasnya tidak menghiraukan setiap pasang mata yang tertuju padaku. Mungkin mereka menganggapku gila karena diusiaku yang mulai beranjak 24 tahun ini masih bisa bermain dengan leluasa.

Kurasakan beban pikiranku sudah beranjak menguap dan memberikan kenangan yang indah di setiap akhirnya. Menghilangkan penat dan kesedihan yang selama ini menghantuiku. Membiarkan embun malam membasahi tubuhku yang haus akan kegenbiraan dan keceriaan seperti ini.

Mataku tertuju pada seorang namja cantik. Ia berpakaian seperti gadis. Melenggak-lenggok menari diiringi dengan musik yang tak kalah lincah di banding dirinya. Aku yakin 100% itu namja. Tapi ia sangat cantik dengan balutan pakaian wanita itu. Apakah hanya demi sesuap nasi ia harus bekerja sampai segitunya?

Aku memberikan sedikit uang ku dikotak kecil yang ia berika ketika sudah usai pertunjukannya. Ia tersenyum sangat manis. Aku hanya bisa miris melihat apa yang ada di depanku. Kurasa pertunjukannya sudah selesai. Ia segera beranjak kebelakang panggung. Entah kenapa aku menunggui namja itu keluar. Rasa penasarannku padanya mengalahkan semua penat yang aku rasakan dari tadi.

Akhirnya namja itu keluar. Ia sangat keren dengan pakaian ‘normalnya’. Tetap dengan senyum manis yang masih menghiasi wajah tampannya itu.

“Hey, kau yang tadi menonton pertunjukanku?” tanyanya setelah melihatku.

“Ne.. Yoon Haerin imnida.” kata ku memperkenalkan diri.

“Lee Taemin imnida.” balasnya sambil membungkuk perlahan.

Aku reflek ikut membungkuk juga. Kulihat ia tersenyum. Manis sekali. Taemin pun mengajaki ku berkeliling pasar malam. Kami mulai bercerita tentang banyak hal. Walaupun kami baru pertama kali bertemu kami sudah menceritakan banyak hal. Ia bercerita tentang keluarganya. Bagaimana bisa ia menjadi penari hanya demi kelangsungan hidupnya dengan dongsaengnya. Bagaimana ia bekerja dari sebelum matahari terbit hingga malam menjemput. Dengan hiruk pikuk kota Seoul yang begitu padat ia bisa menjalani pekerjaannya tanpa mengeluh. Sungguh berbeda denganku yang hanya bisa berpangku tangan pada orang tuaku. Di usia ku yang sekarang tak pernah terlintas sedikitpun untuk bekerja. Sungguh Taemin telah menamparku. Menyadarkan ku bahwa aku harus bisa menjadi seperti nya. Bekerja demi orang yang kita kasihi.

-Cinta adalah keabadian… dan kenangan adalah hal terindah yang pernah dimiliki.-

Aku mulai membuka lembaran baruku. Menghilangkan sikap sakartisku tentang makna cinta semenjak kehadiran namja bernama Taemin. Aku tidak mau menganggap ini cinta. Aku hanya berharap suatu saat rasa suka ku padanya bisa membantunya. Akupun mulai menghargai hidup. Menjalani setiap hal yang aku anggap berguna. Sekarang aku bekerja sebagai relawan untuk anak-anak yang kurang mampu. Terkadang aku membantu Taemin menyelesaikan pekerjaanya. Sungguh menyenangkan rasanya berada dekat dengan namja yang kita sayangi.

Aku lelah, lelah bahagia. Akhir-akhir ini aku sibuk mengurus panti asuhan ku di daerah terpencil di pinggiran kota Seoul. Aku dan Taemin melepas penat di sebuat bukit yang terlihat pemandangan indah kota Seoul di bawahnya. Dengan lampu gemerlapan membuat tempat itu semakin indah. Aku memiringkan kepalaku hingga menyentuh pundak Taemin. Aku melirik sekilas ke arah Taemin. Namja itu masih tersenyum, senyumnya yang aku sukai itu.

Aku tidak ingin hari ini berakhir. Bisa saling berdekatan seperti ini membuatku tenang. Walaupun kami tidak ada hubungan khusus. Ya, hanya teman. Kami sama-sama pernah tersakiti dan belum siap untuk menjalin suatu hubungan. Taemin taukah kau bahwa aku sangat mencintaimu?

Taemin berdiri dan mengulurkan tangannya padaku. Aku menyambut uluran tangannya dan mulai berkeliling di sekitar bukit. Tapi tangan namja itu terhenti saat ia menemukan sebuang bunga ilalang. Ia mulai membentuk ilalang itu menjadi sesuatu. Cincin. Taemin kau mau apa?

“Haerin-ah.”

“Ne…”

Taemin mulai menarik tanganku dan hendak menyematkan cincin ilalang itu di jari manis ku. Tubuhku rasanya kaku. Sebuah cincin bertengger manis di jarimanis ku. Aku tersenyum. Seketika mataku berkaca-kaca.

“Haerin…. Would you be mine?” tanya Taemin perlahan.

“I do….” jawab ku sambil terharu. Kurasakan sebuah titik air mulai menggenang di pelupuk mataku.

Seketika Taemin menarik ku dalam pelukannya. Membiarkan aku menangis bahagia di dadanya yang bidang. Meluapkan segala keraguan dan kegalauan ku akan namja yang pernah singgah di hatiku.

Tangisanku mulai mereda diselingi isakan kecil. Mungkin sudah beberapa menit berlalu tapi Taemin tetap memeluk tubuhku erat. Ketika aku merasa sudah agak tenang ia menyentuh pipiku. Menghapus air mata yang masih tersisa. Entah dari kapan bibir Taemin mulai menyentuh bibirku. Memberikan sensasi aneh di tubuhku. Ia mulai menyapu bibirku perlahan, aku hanya bisa membalas ciuman yang ia berikan padaku.

Aku harap Taemin adalah pelabuhan terakhirku. Hasil dari penantianku cintaku selama ini. Apakah cerita cinta nya sudah berakhir? Tentu saja tidak. Aku akan memulainya dengan buku yang baru, yang bersampul cantik dengan isi yang tak kalah menarik dari ceritaku yang ini.

“Saranghae.”

-Mencintaimu sebelum kita berdekatan, Sejak pertama kulihat engkau. Aku tahu ini adalah takdir.-

FIN

Source : kumpulan kata-kata mutiara

Gimana? Gaje kah? Maklum ga bisa bikin efef ..

Yg suka comment sangat di harapkan ..

Yg setuju aku bikin ff chaptered.. Comment still needed !!

Tp ttep ak masih mau bkin ff yg cast-nya shinee ,…

hehehehhehe😀

Gomawo^^