Tags

, , , , , , ,

Voice of My Heart

Author: yutaem
Cast: L Infinite as Kim Myungsoo, Choi Eunmin (OC)
Other Cast: Minho SHINee as Choi Minho, Hoya Infinite as Lee Hoya
Genre: Sad, Romance, Friendship
Leght: One shoot
Rating: PG-14
A.N: This is just a story, from my mind. Enjoy and happy reading ^^


***

AUTHOR POV

The words I wanted to say in front of you
the words I couldn’t say
Without the chance to say them
you left me alone in this place

Rintik hujan mulai membasahi bumi. Perlahan hanya gerimis namun lama-lama menjadi hujan yang deras. Seakan-akan langit ikut menangis melihat keadaan seorang yeoja yang menangis sesegukan di bawah hujan. Meratapi nasib. Melihat seorang namja yang notabene pacarnya sedang berasik ria di balik payung besar yang melindungi mereka dari hujan. Seakan tidak ada rasa bersalah.

Yeoja itu -Choi Eunmin- menekuk lututnya dan tetap menagis di bawah hujan. Ia tidak perduli akan keadaan sekitar. Walaupun orang-orang yang lalu lalang banyak melihatnya. Seakan tak perduli, di hari yang hujan ini orang-orang akan lebih memilih cepat pulang ke rumah, mengenakan selimut dan membuat secangkir coklat panas untuk menghangatkan badan mereka. Namun berbeda dengan Eunmin, yeoja itu malah semakin menangis sesenggukan. Merasa bodoh, memang. Namun ia tak akan melupakan kejadian yang barusan terjadi.

Flashback

Eunmin sedang berjalan-jalan di sebuah mall, melihat barang yang sedang update, membelinya atau hanya sekedar melihat-lihat. Ia sudah lelah berkeliling, merasa ada yang demo di perutnya ia hendak pergi ke foodcourt terdekat. Namun ia terkejut melihat pemandangan di depannya. Hoya -namjachingu nya- bersama seorang yeoja. Yeoja itu lebih cantik, feminim dan melebihi penampilan Eunmin. Eunmin membatu. Bisa-bisanya namja yang selama ini ia banggakan melakukan hal seperti itu di belakangnya. Berselingkuh di depan mata Eunmin sendiri.

Flashback Off

***
All I can do is watch,
all I can do is hold on,
and wait for you here
You’ve gotten farther away
leaving only regrets,
say it with both eyes closed

“Kemana harus aku pergi sekarang? Pulang dengan keadaan seperti ini pasti membuat Minho oppa marah dan bertanya apa yang terjadi. Aku belum siap menceritakan semuanya,” gumam Eunmin pelan pada dirinya sendiri.

Perlahan kakinya mulai bergerak, berjalan tak tentu arah. Menyeka sisa air matanya. Berjalan dengan pandangan kosong. Ia benar-benar berantakan sekarang. Namja yang selama ini ia sayangi tega bermain di belakangnya. Seharusnya Eunmin tahu dari dulu, ia memang merasa perhatian Hoya mulai berkurang padanya, bahkan sifatnya pun berubah. Pasti karena yeoja tadi. Eunmin menyesal kenapa ia tidak mendengarkan kata-kata Minho yang mengatakan namjachingu-nya itu bukan namja baik-baik. Bahkan mereka sampai bertengkar mempermasalahkan itu semua.

Eunmin mendongakkan kepalanya. Ia melihat sekeliling. Merasa aneh dengan lingkungan ini. Apa ia tersesat? Dimana ia berada sekarang. Di sampingnya banyak terdapat apartemen untuk mereka yang berstatus kelas atas. Eunmin merasa seperti gelandangan -pakaiannya basah kuyup, rambut acak-acakan-.

Ia merasa seperti pernah ke tempat ini tapi kapan? Ia berjalan sambil mengedarkan pandangannya di tempat yang bisa dibilang ‘istana’ itu.

“Min… Eunmin.” Samar-samar terdengar suara yang memanggil namanya. Merasa ada yang memanggilnya Eunmin menoleh kebelakang, di picingkan matanya berusaha mengetahui orang yang memanggilnya. Kim Myungsoo, teman kampus kakaknya-Minho-. Seketika mata Eunmin terbelalak, Myungsoo tinggal di tempat semewah ini?

“Annyeong Eunmin,” sapa Myungsoo dengan senyuman khasnya hingga membuat mata Myungsoo yang sipit terlihat segaris.

“A-annyeong, Myungsoo oppa,” jawab Eunmin terbata-bata.

“Neo? Apa yang kau lakukan disini? Emm maksud ku kau sedang apa disini? cerca Myungsoo pada Eunmin.

“Molla, tadi aku kehujanan dan entah kenapa bisa sampai sini,” jawab Eunmin asal.

Myungsoo yang sedari tadi heran mengapa mereka bisa bertemu hanya bisa mengangguk. Memang dari dulu ia berteman baik dengan Minho, namun ia jarang melihat Eunmin di rumahnya. Minho bilang Eunmin lebih senang menghabiskan waktu di luar ketimbang di rumah yang hanya di huni oleh mereka berdua -Minho dan Eunmin-.

Dan sekarang mereka bertemu, dilihatnya Eunmin dari atas kebawah. Pakaian yeoja itu basah kuyup karena kehujanan. Myungsoo yang melihat itu langsung berinisiatif mengajak yeoja yang ada di depannya untuk masuk ke rumahnya. Eunmin tidak menolak. Ia mengikuti Myungsoo, merasa perlu tempat bernaung sebelum ia pulang dengan keadaan yang kacau balau. Bisa saja ia dimarah oleh Minho jika pulang dengan keadaan seperti itu.

Mereka mulai berjalan masuk kesalah satu gedung itu. Myungsoo memencet angka yang tertera pada lift. Eunmin hanya bisa terdiam sambil menunduk. Apa ia salah jika harus ikut dengan Myungsoo? Kenapa ia tidak ke rumah sahabatnya saja. Seakan tubuhnya tidak dapat mencerna setiap yang berkelebat dipikirannya. Terlalu takut untuk mengingat kejadian yang sebelumnya telah membuatnya lemas.

“Kau tidak bilang dulu pada Minho? Ini sudah malam, bisa saja ia mencarimu kemana-mana,” kata Myungsoo setelah mereka memasuki apartemen milik Myungsoo yang bisa di bilang ‘waah’ itu.

“Oppa tinggal sendiri?” alih Eunmin agar tak ditanyai macam-macam oleh Myungsoo.

“Aah, ne. Aku anak tunggal. Berbeda dengan kalian,” jawab Myungsoo cepat.

Eunmin hanya tersenyum pahit mendengar ucapan Myungsoo yang bermaksud menyinggung Eunmin dengan Minho. Dilihatnya rumah itu. Terlalu mewah dan luas untuk ukuran seorang namja mandiri yang ada di sebelahnya.

“Eunmin, kau mandi saja dulu. Itu aku sudah siapkan pakaian di atas tempat tidur yang ada di dalam,” ucap Myungsoo sambil menunjukkan letak kamar dengan dagunya.

“Ne? Tak usah repot-repot oppa, aku tidak ap… Hatchi,” ucap Eunmin yang terhenti karena bersin.

“Sudah, masuk saja,” suruh Myungsoo sambil mendorong Eunmin yang membuat yeoja itu hanya bsa mengerucutkan bibirnya. Merasa tidak ada pilihan. Yeoja itu mulai memasuki kamar mandi yang sebelumnya sudah mengambil pakaian yang di siapkan oleh Myungsoo.

20 menit berlalu dan Eunmin sudah keluar dari kamar mandi berbalut pakaian Myungsoo yang besar dan memakai celana training yang tak kalah besar dari bajunya. Myungsoo yang melihat itu hanya bisa menahan tawanya. Eunmin benar-benar telihat lucu. Ynag membuat yeoja itu hanya bisa mengerucutkan bibirnya.

Myungsoo menarik tangan Eunmin ke meja makan. Eunmin terkejut melihat hidangan yang ada. Ia danMinhotidak pernah makan makanan semewah itu. Eunmin hanya bisa menelan ludah.

“Kenapa masih berdiri disitu? Ayo duduk,” suruh Myungsoo pada Eunmin yang masih melamun melihat makanan yang tersaji di depannya.

Eunmin hanya mengangguk sekilas dan mulai duduk perlahan. Ia bingung harus mulai darimana.

“Makan saja, ini makanan ku sehari-hari hanya saja porsinya jadi dua kali lipat.” Terang Myungsoo.

“Mwo?”

“Waeyo?”

“Anni, hanya saja oppa, kau bisa menghabiskan ini sendiri?” tanya Eunmin.

Seketika Myungsoo terkekeh, ia melihat Eunmin yang masih memandangnya dengan tatapan aneh. Myungsoo menggerakkan tangannya mempersilahkan Eunmin makan. Awalnya yeoja itu malu-malu namun dengan perlahan ia makan semua hidangan yang sangat sedap baginya itu.

***

“Jeongmal gomawo Myungsoo oppa,” ucap Eunmin setelah berada di depan pintu apartemen Myungsoo. Ia hendak pulang sebelumMinhomarah besar karena Eunmin pulang terlalu malam.

“Ne. Benar kau tidak mau diantar? Ini sudah malam.”

“Gwenchana, aku sudah terlalu merepotkan. Annyeong,” kilah Eunmin cepat sambil berlalu meninggalkan Myungsoo. Myungsoo memandang punggung Eunmin yang mulai menghilang di balik lift.

Myungsoo merasa ada yang aneh dengan dirinya. Baru kali ini ia merasakan kehangatan setelah kedua orangtuanya sibuk dengan bisnis mereka melupakan anak semata wayangnya sendirian. Bersama Eunmin ia merasakan serpihan yang telah pergi begitu saja kembali. Mereka bersenda gurau seperti teman yang sudah dekat bertahun-tahun padahal baru tadi mereka benar-benar merasakan kenal satu sama lain. Eunmin yang awalnya canggung namun lama-kelamaan bisa menjadi teman yang baik. Namun Myungsoo merasa aneh dengan sorot mata yeoja itu. Penuh dengan kesedihan. Apa yang terjadi?

***

Eunmin POV

Aku berjalan sendiri keluar dari rumah Myungsoo Oppa. Tak ingin merepotkannya lebih dari ini. Ia terlalu baik. Bahkan lebih baik dari Oppa-ku sendiri. Baiklah ralat- dalam artian berbeda karena kami tidak mempunyai hubungan apa-apa. -Aku dan Myungsoo-.

Aku mengingat kejadian tadi. Sungguh menyenangkan berada di dekatnya. Ia yang mencairkan suasana ketika aku bersikap canggung tadi dengan candaan-candaanya yang kadang garing tapi lucu. Ternyata tak buruk. Ku kira awalnya Myungsoo Oppa namja sombong karena ia hanya diam saja ketika ia berkunjung ke rumah. Ternyata selama ini pikiran ku salah tentangnya. Mianhae Myungsoo oppa.

Sejenak bersama Myungsoo Oppa, aku bisa melupakan namja sialan itu. Namun sekarang aku sendiri. Entah kenapa air mata ini sudah membasahi pipiku. Aku menangis, kecewa. Betapa bodohnya aku bisa percaya pada buaya sepertinya.

“Akhirnya sampai rumah juga,” gumanmu perlahan pada diri sendiri.

“Sudah pulang? Bagaimana kencanmu dengan Myungsoo, huh?” godaMinhooppa yang sudah berada di sofa ruang tamu.

Aku melonjak terkejut. Bagaimana oppa bisa tahu? Pasti Myungsoo oppa yang mengadu pada oppa. Haiss.

“Kenapa diam? Jika kau ingin berselingkuh di belakang Hoya jangan dengan Myungsoo,” ucapMinhooppa dingin.

“Ne? Ak-aku tidak berselingkuh dengan Myungsoo oppa! Yah, walaupun Hoya yang berselingkuh di belakangku,” ujarku lirih.

Minho oppa hanya melongo melihatku. Kurasa ia terkejut mendengar perkataanku barusan. Matanya yang besar itu kurasa makin membesar dan melotot. Kurasa mataku kembali memanas. Entah sudah berapakali aku menangis. Minho oppa mendekat padaku dan memelukku, memberikan ku semangat yang sedang rapuh ini. Gomawo oppa. Kau sungguh kakak yang terbaik yang aku punya.

End of Eunmin POV

***

AUTHOR POV

Minho memandang sekilas dongsaengnya itu. Dipandanginya lekuk wajah Eunmin, tampak kantung mata yeoja itu membesar. Minho tahu jika Hoya memang bukan namja yang baik, ia selalu memperingati adiknya itu namun Eunmin tidak mengindahkannya. Malah pertengkaran yang mereka dapat. Minho sangat menyayangi adiknya. Ingin rasanya ia mencari Hoya dan menghajar namja itu. Namun diurungkannya, ia tak ingin adiknya tambah bersedih.

Eunmin dan Minho tetap pada posisi saling berpelukan, tangisan Eunmin yang tadinya keras sekarang hanya terdengar isakan kecil. Mungkin Eunmin sudah lelah harus menangis berkali-kali. Minho menepuk-nepuk punggung Eunmin, seketika pelukan Eunmin mengendur. Yeoja itu tertidur rupanya. Minho yang mengetahui itu segera mengendongnya ke kamar.

Minho mengusap perlahan rambut Eunmin kemudian mecium kening yeoja itu sekilas. Berharap bisa meringakan beban pikiran dongsaengnya itu. Ia menyelimuti tubuh Eunmin dan beranjak meninggalkan Eunmin yang mulai beranjak ke alam minpinya.

***

EUNMIN POV

Aku terbangun akan sinar yang begitu menyilaukan yang menerpa kamarku. Kusibakkan selimut yang menutupi tubuhku. Sejak kapan aku ada di kamar? Perasaan kemarin aku masih menangis dipelukanMinhooppa. Aku mengacak rambutku, mengingat-ingat apa yang terjadi kemarin. Sungguh hariku benar-benar kacau.

Aku melihat Minho oppa masih di rumah, biasanya ia masih tertidur jam segini. Aku yang heran hanya bisa terdiam dan melihat punggung oppa yang berjalan hilir mudik mengambil bahan untuk membuat sarapan tanpa mengindahkan dongsaengnya yang ada dibelakangnya sedang memperhatikannya dengan seksama.

“Kau sudah bangun Eunmin?” tanya Minho oppa yang menyadari keberadaanku.

“Ne, oppa apa yang kau lakukan? Tugas memasakkanaku.”

“Biarkan aku melakukan ini sendiri,” jawab Minho oppa cepat.” Dan kau, duduk manis disitu,” suruh Minho dengan mengancungkan sendok nasi pada ku.

Aku menunggu beberapa saat sampai bau harum menyeruak pada hidungku. Apa benar oppa bisa memasak? Aku mulai ragu untuk mencicipinya. Aku melihat ada roti bakar selai stroberi dan susu coklat terhidang diatas meja, lalu untuk apa dia mengancungiku dengan sendok nasi.

“Awalnya oppa ingin memasak nasi goreng kimchi tapi sepertinya aku tidak bisa memasak nasi,” aku Minho oppa.

Seketika aku tertawa hingga perutku sakit melihat ekspresiMinhooppa yang seperti tadi. Jujur itu membuatku lebih baik dari sebelumnya. Jadi ia daritadi berkutat dengan peralatan dapur padahal ia tak bisa membuat apapun. Hanya bisa memasak ramyun , roti bakar dan susu coklat saja. Namun masakan itu sudah mengenyangkan perutku.

“Gomawo oppa,” ucapku setelah menghabiskan sarapanku. Kulihat Minho oppa tersenyum sambi mengacak pelan rambutku.

Tok tok tok. Kudengar ada yang mengetuk pintu. Akupun segera beranjak membuka pintu betapa terkejutnya ketika aku melihat tamu yang datang. Myungsoo oppa.

Eunmin POV end

***

Author POV

Eunmin segera membuka pintu untuk tamunya itu dan betapa terkejutnya dia melihat Myungsoo yang bertamu sepagi ini. Dilihatnya namja itu menenteng tas besar ditangan kirinya, apa yang terjadi. Myungsoo tersenyum sambil melambaikan tangan kanannya yang bebas di depan Eunmin yang seketika membatu.

“Anyyeong,” sapa Myungsoo pada Eunmin. Dilihatnya yeoja itu hanya diam dan bengong menatap kearahnya. Myungsoo hanya tersenyum padahal dalam hatinya ia sedang terkekeh melihat keadaan yeoja itu.

“Oh, kau Myungsoo-ya. Kajja masuk,” ajak Minho. “Eunmin-ah, tutup pintunya! Kau tidak ingin sakit kandengan pakaian seperti itu,” suruh Minho pada Eunmin. Eunmin segera tersadar dan cepat-cepat menutup pintu lalu berlari meninggalkan kedua namja yang mulai menatapnya dengan tatapan aneh. Mungkin tatapan itu lebih mengarah pada Minho sedangkan Myungsoo sendiri hanya tersenyum melihat tingkah dongsaeng sahabatnya itu.

***

“Jadi Myungsoo oppa akan tinggal disini?” tanya Eunmin setelah ia keluar dari kamar dan mendengar penjelasan dari Minho.

“Ne. Karena urusan kampus dan kami satu project jadi kami memutuskan untuk mengerjakannya bersama,” jelas Minho.

“Kenapa oppa tidak tinggal di rumahnya Myungsoo oppa saja?”

“Karena Minho khawatir kau ditinggal sendiri di rumah,” lanjut Myungsoo. Minho yang mendengar itu hanya bisa mendelik kearah sahabatnya itu yang membuat Myungsoo menarik senyuman, senyuman itu seperti seringaian bagi Minho.

Eunmin akhirnya mengerti dengan keadaan Minho yang tidak ingin meninggalkannya sendiri. Ia juga yakin Minho yang over protectiv itu akan menjaganya dengan baik. Awalnya Eunmin keberatan namun akhirnya ia luluh juga pada Minho.

Eunmin melirik Myungsoo sekilas, dilihatnya namja itu. Tak jauh berbeda dengan kemarin. Entah kenapa dadanya berdesir ketika melihat senyum namja itu saat Myungsoo asik bercanda dengan Minho. Apa yang terjadi pada Eunmin? Kemarin ia masih biasa saja di hadapan namja itu.

***

Sudah berhari-hari Myungsoo di rumah Eunmin, sesekali ia pulang ke apartemennya hanya sekedar mengambil barang yang telupa atau yang di perlukan olehnya disaatMinhobekerja sambilan. Selama itu pula Eunmin sembunyi-sembunyi memerhatikan namja itu. Semenjak hadirnya Myungsoo di kehidupan Eunmin, yeoja itu sedikit-mulai melupakan namjachingunya, Hoya.

Naekkeo haja, naega neol saranghae, eo?
naega neol geokjeonghae, eo?
Naege neol kkeut kkaji, chaekim jil ge~

Ponsel milik Eunmin berdering, Eunmin melirik sekilas nama yang tertera pada layar ponselnya. Nafasnya tercekat, matanya tertuju pada ponsel yang berdering dengan nyaring itu. Seketika air mata Eunmin hampir tumpah namun ditahan agar tak mengundang kecurigaan pada si penelepon.

“Yeoboseo,” ucap Eunmin setelah bisa meredam suaranya agar terdengar seperti biasa.

“Eunmin-ah, apa kabar mu chagiya? Mianhae selama ini aku sedang ada urusan penting jadi baru bisa menghubungimu,” kata seseorang di seberangsana. Siapa lagi kalau bukan namjachingu-nya -Lee Hoya-

Semudah itukah kau mengucapkan kata maaf? Dasar buaya, jerit Eunmin dalam hati. Namun sebisa mungkin ia seolah tak mengubris ucapan yang dilontarkan oleh Hoya.

“Chagiya? Kenapa kau diam? Apa kau tidak merindukan ku?” cerca Hoya sebab yang ditelepon hanya diam tak menjawab pertanyaan yang dilontarkannya.

“Bisakah kita bertemu.”

***

Eunmin hendak keluar, ia melihat sekeliling. Minho belum pulang sehingga yeoja itu tak perlu bilang kemana ia akan pergi. Ia keluar dengan pakaian berlapis dan mantel hangat sebagai sentuhan terakhir. Ia bersiap untuk menemui namja yang selama ini telah mengkhianatinya. Yeoja itu berjalan dengan santai sambil bersenandung kecil. Ia sudah memantapkan hati untuk namja menyebalkan itu. Semoga keputusannya tidak salah.

Akhirnya Eunmin telah sampai di tempat ia akan bertemu dengan Hoya. Dilihatnya namja itu sudah duduk manis disebuah meja yang menyudut pada cafe itu. Namja itu kemudian melambaikan tangan pada Eunmin. Eunmin hanya tersenyum kecut sambil mendekati Hoya yang sudah duduk manis.

“Lama menunggu?” ujar Eunmin sekedar basa basi.

“Anniyo. Eunmin-ah kau terlalu merindukan ku ya hingga mengajak bertemu. Ku akui kita sudah sebulan tak bertemu,” jawab Hoya dengan percaya diri.

“Kau percaya diri sekali,” balas Eunmin sambil menyeringai pada Hoya yang membuat namja itu terpaku dengan jawaban yang Eunmin lontarkan.

“Ne? Apa maksudmu chagiya?” tanya Hoya sambil mengernyitkan dahinya.

“Neo!”pekik Eunmin tertahan sambil menunjuk Hoya dengan telunjuknya. “Kau sudah berselingkuh dan masih bisa memanggilku ‘chagiya’? Kau gila-“

“Oppa.” Panggil seorang yeoja yang sudah berada di samping meja tempat Eunmin dan Hoya berada.

“Apa yang kau lakukan dengan yeoja ini?” lanjut yeoja itu sambil menunjuk Eunmin.

“Aku sedang berbicara dengan namja-mu ini nona. Dan sekarang aku memutuskan hubunganku dengan pria brengsek ini!!!” desis Eunmin seraya pergi dari tempat itu. Yang membuat Hoya diam tak berkutik mendengar ucapan yang keluar dari mulut Eunmin.

Eunmin segera belari dari cafe itu tanpa memerdulikan berapa orang yang sudah ia tabrak. Berharap cepat menemukan tempat sepi agar bisa meluapkan semua kekesalan yang selama ini tertahan.

Ia menyepi disebuah sudut taman yang tak jauh dari cafe itu. Terdapat pohon besar yang melindunginya sehingga tak terlihat oleh siapapun. Eunmin berdiri belakang pohon tua itu, kemudian duduk dan menekuk lututnya. Menangis seperti kejadian awal ia melihat Hoya bersama yeoja itu. Entah rasanya tangisannya berbeda dari waktu itu. Bukan tangisan sakit hati namun lebih berpikir betapa bodohnya ia bisa dibohongi oleh namja macam itu. Eunmin menagis sesenggukan. Namun tanpa yeoja itu sadari seseorang telah merengkuhnya. Memberinya kekuatan lewat pelukan itu. Eunmin mendongak dilihatnya Myungsoo telah memeluknya yang membuat Eunmin terkejut, ia tidak menolak dan tetap membiarkan Myungsoo memeluknya hingga tangisan yeoja itu mulai mereda.

“Gwenchanayo?” tanya Myungsoo hati-hati setelah Eunmin diam dan hanya terdengar isakan kecil darinya. Perlahan ia melepas pelukan pada yeoja yang selama ini telah mencuri perhatiannya itu. Eunmin menghela nafas. Ia mengangguk sekilas.

“Gomawo oppa,” ucapnya lirih.

Myungsoo kembali merengkuh tubuh munggil Eunmin. Eunmin membalas pelukan Myungsoo dengan pelan tapi pasti. Myungsoo mengetahui apa yang baru saja terjadi pada yeoja itu. Ia mengikuti Eunmin hingga mendapat pemandangan yang membuatnya sakit hati namun setelah ada yeoja lain yang datang kemudian Eunmin pergi barulah ia mengeti dan mengejar Eunmin hingga ketempat mereka berada sekarang.

“Aku tau mungkin ini bukan waktu yang tepat setelah apa yang terjadi barusan. Tapi aku hanya ingin kau tau bahwa kau telah mencuri perhatianku selama ini.”

“Oppa? Maksudnya?” tanya Eunmin tak mengerti dan masih dalam posisi berpelukan.

“Saranghae, jeongmal Eunmin-ah,” ucap Myungsoo mantap sambil menatap kedua manik milik yeoja yang ada di depannya. Seketika membuat wajah Eunmin memanas akan kata yang baru saja di lontarkan oleh Myungsoo.

“Emm, oppa hajiman-” jawab Eunmin yang tertahan karena telunjuk Myungsoo yang berada di depan bibirnya.

“Aku tau kau baru memutuskan hubunganmu dengan namjachingu-mu. Aku hanya ingin kau tau-” Myungsoo terdiam karena ditahan oleh bibir Eunmin. Mereka berciuman selama beberapa menit. Awalnya Myungsoo hanya diam kemudian mulai berani melumat bibir Eunmin begitu pula sebaliknya hingga mereka kehabisan nafas.

“Jadi jawabanmu?” tanya Myungsoo disela-sela kecanggungan yang terjadi. Dilihatnya wajah Eunmin yang memerah. Eunmin memegang pipinya menyembunyikan rasa malunya. Myungsoo tertawa kecil melihat tingkah yeoja yang ada di depannya.

“Aku tidak mau di cap sebagai yeoja gampangan. Jadi tunggu aku oppa, biarkan aku memupuk rasa ini lebih dalam padamu,” ucap Eunmin. “Nado saranghae,” lanjutnya.

I call out without sound,
I call out remembering you
I try forgetting you,
knowing you don’t share my feelings

The words I couldn’t say to you…I love you.
The words I couldn’t bring myself to say
Without the chance to say them
you’re leaving me alone here
and going farther away

END

Gimana ? Gaje kah? FF terpanjang pertama ini. Jadi mian kalo berbelit-belit dan bahasanya kurang jelas.. Masih belajar ..
hehhehehehe :p
Gomawo udah baca dont forget to RCL *bow*