A Side Story of me:

Aku hanyalah seorang gadis yang benar-benar mencintai ah tidak masih tahap menyayangi seorang pria. Ia yang selalu aku banggakan di depan orangtuaku, walapupun hubungan kami sebenarnya tidak direstui karena derajat yang berbeda. Aku seperti menutup mata karena keindahannya yang terpancar, namun semua itu hanya kamuflase. Ia sebenarnya sama seperti laki-laki lain. Tanpa perhatian. Seringkali jika kami sedang ada masalah ia akan lebih memilih bungkam daripada menyelesaikan masalah secepatnya. Aku yang kadang emosian juga. Salahku yang menghancurkan segalanya? Karena sifatnya juga, sebagai laki-laki sedikit saja keinginan untuk menyelesaikan masalah dengan cepat tanpa mengulur-ulur waktu. Mungkin aku tidak akan menghancurkan segala sesuatu seperti itu. Coba kamu menyadari bagaimana rasanya menjadi aku, yang selalu terlihat salah di matamu? Rasakanlah jika kamu menjadi aku. Menerima tekanan dari berbagai pihak hanya karena dirimu. Hanya karena ego mu. Aku ternyata salah mencoba bertahan selama ini. Penyesalanpun tak cukup untuk membendung segala sakit hati yang kurasakan.

Terlalu tingginya kau menjunjung harga dirimu sebagai seorang pria. Terlalu menganggapku sebagai gadis rendahan. Terlalu EGO mu yang bekerja, terlampau sakit hati yang kurasa.

Mungkin memang benar jika kita sama-sama terlalu mementingkan ego. Kau yang selalu mencari-cari alasan agar kita berpisah sudah menjadi titik kebal di gendang telingaku. Entah karena apa tak ada penyesalan yang kurasa, tak ada air mata. Hanya sakit hati karena kata-katamu. Tak lebih, hanya karena kita sering bersama saling bertukar rasa dan cerita. Kuharap kita bisa menjadi sahabat. Would you?